Jangan Jadi Pemimpin Kalau Tidak Punya Visi

Sambil pulang naik kereta komuter dari stasiun Duri menuju stasiun Batu Ceper saya luangkan waktu untuk menulis artikel ini. Sebenarnya sudah lama ada ide cuma baru sekarang ada waktu menuliskannya. Tulisan pendek ini juga untul memperkaya jawaban saya atas beberapa pertanyaan peserta leadership training.

Pertanyaan peserta terbilang cukup sering ditanyakan yakni: seberapa penting visi bagi pemimpin, dan organisasi. Peserta pelatihan umumnya tahu perusahaan/organisasi mereka punya visi, tapi kalau visi kepemimpinan, wah ini seperti barang baru. Apakah berarti seorang pemimpin harus punya visinya sendiri atau bagaimana.

Visi seorang pemimpin secara sederhana dapat dikelaskan sebagai kemampuan pemimpin melihat masa depan. Mereka melihat masa depan seolah sudah benar-benar nyata dan jelas terlihat.

Contohnya adalah Bpk. Ignasius Jonan. Sang Menteri Perhubungan ini sebelumnya adalah Direktur Utama PT. KAI. Beliau melakukan perubahan yang luar biasa sehingga pelayanan PT. KAI semakin nyaman, aman, selamat dan terjangkau.

Pada sebuah wawancara, Pak Jonan bercerita bahwa semasa kecil dia pernah diajak jalan-jalan naik kereta dengan orangtua dan punya mimpi suatu saat naik kereta di Indonesia nyaman dan berkesan seperti halnya naik kereta di Eropa.

Memang naik kereta nyaman di Indonesia seolah masih barang mahal. Kenangan buruk para pemudik bisa jadi contoh, karena selama perjalanan mereka banyak yang tidak dapat tempat duduk. Mereka berhimpit-himpitan di kelas ekonomi dan bahkan kelas bisnis selama kurang lebih lima belas jam (Jakarta – Surabaya). Penumpang sangat tersiksa dan pelayanan sangat tidak manusiawi. Boro-boro bicara kenyamanan, keamanan dan keselamatan di jalan. Sudah sampai tujuan saja sudah syukur. Wah… Menyeramkan

Mimpi Pak Jonan seolah mendapatkan kesempatan untuk diwujudkan ketika beliau ditunjuk menjadi Dirut KAI. Visi/mimpi beliau mulai diwujudkan dari yang paling sederhaana, terlihat dan mudah diukur: kebersihan dan ketertiban. Beliau maunya semua stasiun harus bersih dari pedagang-pedagang liar, pemulung, preman, sampah, gubuk-gubuk liar, parkir liar, calo dan antrian penumpang yang membludak.

Berbagai upaya dilakukan, misal bekerjasama dengan TNI untuk pengamanan dan ketertiban di stasiun. Bekerjasama dengan bank dan retailer agar penumpang bisa beli tiket di ATM ataupun kasir toko. KAI juga memaksimalkan online ticketing agar di stasiun tidak terjadi lagi penumpang yang membludak antri.

Demikian juga dengan fasilitas pelanggan di stasiun. Loket, ruang tunggu, tempat duduk, pot bunga, hiburan musik, toilet, parkir kendaraaan dan kantin ditata ulang. Stasiun semakin bersih.

Armada lokomotif dan gerbong-gerbong kereta juga tak luput dari sentuhan perbaikan dan peremajaan serta peningkatan tampilan. Gerbong kereta dicat ulang, toilet diperbaiki dan dipastikan cukup airnya selama perjalanan. Kalau perlu mendatangkan gerbong-gerbong kereta baru.

Penumpang juga dididik tertib. Tidak ada lagi penumpang duduk diatas kereta. Pembelian online dan transaksi di ATM dan kasir retailer ditingkatkan.

Tahukah Anda bahwa itu semua butuh visi, tidak muluk-muluk, hanya bermula dari kebersihan dan ketertiban semua kemudian berubah. Kuncinya adalah konsistensi pengawalan dan believe pemimpin pada apa yang dia cita-citakan/visi sejak diawal dia memimpin.

Ingat resep perubahan: jalankan suatu rencana realisasi target yang jelas terlihat perubahannya dan berdampak significant terhadap proses bisnis.

Saat ini KAI pelayanan semakin bagus, kereta nyaman, toilet cukup baik, ketepatan jadwal perjalanan semakin baik dan keselamatan dan keamanan juga semakin baik.

Ignatius Jonan punya latar belakang pendidikan, profesi dan pengalaman yang bagus. Modal berikutnya adalah faktor kapasitas kepemimpinan. Kepemimpinan lebih banyak terkait karakter dan proses “menjadi” (melalui serangkaian uji coba menjadi pimpinan). Banyak yang memiliki pendidikan, pengalaman dan profesi penunjang namun tidak berhasil membawa perubahan positif.

Visi pemimpin lahir dari serangkaian pengalaman, wawasan dan kebijakan pribadi yang bertujuan menuju kondisi yang lebih baik. Visi melahirkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Visi juga menyalakan obor semangat pencapaian tujuan-tujuan tadi.

Visi sekali lagi adalah kemampuan pemimpin melihat gambaran masa depan dengan sangat jelas dan mampu memaparkan bagaimana meraihnya.

Sekarang Bpk. Ignatius Jonan sudah menjadi Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Semoga keberhasilan beliau dapat ditularkan ke perusahaan transportasi yang lain. Amin

Selamat bekerja Pak…

Oleh: Widodo Aryanto

Widodo Aryanto SE., MCom About Widodo Aryanto SE., MCom
Master Trainer, Public Speaker, Motivator dan Konsultan Pengembangan Organisasi. Untuk informasi, pendaftaran seminar/public training dan permintaan pelatihan/inhouse training bisa menghubungi Email: info@konsultanpelatihan.com Hp. : 0818215077 dan 082110658857